Selasa, 22 Oktober 2013

Bukan dengan Punggung

Seorang lelaki berdiri di ujung jalan itu. Setiap pagi aku melihatnya menggenggam sebuah payung hitam. Entah hujan, entah terik, ia tetap melakukannya. Jam 06.20 hingga 07.00. Tak sedikitpun ia beranjak berdiri dari atas trotoar ber-bata blok abu-abu baru yang baru dipasang 2012 silam. Sesekali ia ditanyai orang yang lewat. Tapi seperti angin. Ia hanya berlalu. Tak bersuara.

Gemercik bunyi hujan memang agak menarik ujung bibir kanan dan kirinya sangat sedikit. Seperti ingin tersenyum namun tak sampai. Terik dan bunyi patukan burung di atas atap rumah-rumah sesekali membuatnya menggenggam erat gagang payung hitamnya itu. Suara tawa orang yang lewat, rasa penasaran mereka, seringkali membuat jari lelaki itu memainkan tali gagang payung hitam yang terbuka lebar seperti mangkuk sup terbalik.

Pagi ini aku memberanikan diri bertanya padanya. Hanya sedetik jarak ia berdiri dari rumahku. Setiap hari aku menatapnya dari lantai dua. Dari jendelaku yang kugeser untuk kututup setiap kali berganti pakaian atau sekedar mengurangi hawa dingin dari luar.

Kali ini ia memakai sebuah pakaian sederhana. Kaos bermerk berwarna hitam polos dengan gambar keil bertuliskan “Neil” dengan logo bunga teratai putih sederhana di bagian dada kiri nya. Dengan celana jeans panjang berwarna biru lusuh terawat. Dan sandal jepit hitam berujung kotak yang menahan bobot tubuhnya setiap hari.

Tatapannya yang kosong membuatku bertanya dalam hati “apa yang ia pikirkan”.

Aku berjalan dari lantai dua menuruni tangga.
Sedikit perlahan karena aku tak mau ibu atau ayah bertanya.
Kubuka pintu dan ternyata ia sudah tidak ada.

Aku maju sejenak, menyusuri desahan rumput halaman rumah, ditemani dengung tawon kecil diantara bunga anggrek hitam kesayangan ibuku. Menengok sedikit ke kanan. Dan ke kiri.
Lelaki itu ada diujung jalan, melintasi zebra cross kecil menuju jalan dengan kebun buah naga.
Tak terlihat ia tergesa-gesa. Tapi jaraknya seperti sudah berlari sekuat tenaga untuk jarak itu.
Kuurungkan niatku. Rasa penasaran ini kembali mengalir. Dinginnya tatapan kosong lelaki itu mengembungkan semangatku untuk kembali bertanya. Kupercepat gerakanku berganti pakaian dan bangun sepagi mungkin. Kali ini, aku pasti bisa bertanya.

Terjadi lagi.
Lelaki itu sudah di tempat yang sama seperti kemarin saat aku tiba di depan rumah.
Langkah ku yang cepat hanya membuatnya 10 meter lebih dekat dari posisinya kemarin.
Entah bagaimana.
Aku hanya bisa melipat bagian bibir bawahku dan bergemuruh dalam hati. “Tidak mungkin ia tahu aku ingin menyapa. Ia bahkan tidak pernah menatapku”.
Ketiga kalinya kucoba dengan cara yang sama.

Hasilnya pun sama.

Hatiku seperti gelas kosong. Terlihat padat dan indah, namun mudah pecah dan rapuh. Gelas kosong ini hanya ingin diisi dengan sapaan singkat. Bukan dengan punggung.

Hari ini aku hanya melihat sejenak. Tak lagi berharap untuk bertanya pada lelaki itu. Mungkin suatu saat ia mau berbicara. Tapi tidak saat ini. Ya. Mungkin. Kembali aku menatap cermin, menggunakan foundation tipis dan pelembab bibir berwarna merah muda semi transparan, berbau strawberry dan lembut. Ku ambil eye liner sedikit di bagian atas garis kelopak mataku. Satu saja di atas.

Tik tik tik..
Waktu terus berjalan, suara jam dinding berbentuk oval bermerk  SEIKO menemani langkahku yang santai karena pagi ini aku bangun tepat waktu.

Tak!

Eye liner-ku terjatuh dari jendela, menggelinding sedikit demi sedikit ke genting-genting bagian bawah, suara detak antara genting dan badan eye liner-ku mengiringi rasa khawatirku kehilangan benda itu. Kulihat ke bawah, ia sudah menghilang. Tapi diujung jalan itu, lelaki itu masih berdiri, menatap kosong ke arah jalan dengan payung hitamnya yang lebar terbuka.

Suara dering handphoneku memecah kebingunganku. Segera mengalihkan wajahku dari arah jendela ke dalam kasur tempat tidurku. Ternyata itu Veni. Ia meminta tolong dibawakan lembar soal ujian tahun lalu yang dulu sempat kujanjikan untuk kupinjamkan. Kuminta ia datang ke rumah sekalian belajar bersama, mengingat 1 minggu lagi ujian tengah semester akan dilaksanakan.

Aku kembali melakukan aktivitasku seperti biasa. Menatap cermin sejenak, tersenyum dan selesai.
Aku keluar melewati pintu kayu berwarna oranye muda yang mulai pudar, membungkuk dan mencium kedua tangan ibuku lalu melangkah meniti jalan kecil berbatu kerikil. Lelaki berpayung hitam itu di sana, menanti sesuatu yang tak kunjung ia dapatkan. Menemani pagi yang tak terlewatkan satu pun di sana selama 1 bulan ini. Tapi hidupku sangat menarik dan luas, bukan hanya mengurusi lelaki berpayung hitam itu saja.

Belum selesai aku menatap langit dan berbicara dengan diri sendiri, ada bayangan berbentuk bulat di depanku, tapi tak ada siapapun di depanku. Aku yakin itu bentuk payung. Artinya, ada seseorang di belakangku.

Aku tak takut.
Aku bukan penakut.
Dan aku tak pernah takut.
Kubalik badanku dan ia ada di sana.

Aku dan dia. Berada di ujung lorong ini. Baru ini aku sedekat ini dengannya. Seorang lelaki berwajah tampan dan agak pucat. Menatap langsung ke mataku. Aku langsung tahu ia tak berniat jahat, karena jika memang, ia sudah melakukannya dari dulu, dan ini di jalan. Sangat ramai, posisiku aman.

Dia menjulurkan lengan dan membuka telapak tangan kanannya. Memberiku sesuatu seperti tabung kecil berwarna hitam. Itu eye liner ku. Dengan menatapku hangat. Sangat berbeda dengan selama ini yang kutahu. Senyuman yang sangat manis terpasang menghiasi wajahnya.

Sangat berbeda.

Ia benar-benar sangat berbeda.

Tapi aku yakin dia orang yang sama.

Tanpa ragu aku ambil eye liner ku itu secara perlahan. Sambil setengah keheranan dan bertanya-tanya terus di dalam hati. Jantungku berdetak kencang. Tak dapat kubendung rasa ini. Aneh.
Aku tak pernah merasakan hal seperti ini. Aliran darahku mengalir begitu deras, dipompa oleh jantung melalui empat ruang di jantung.. melewati saluran vena dan arteriku. Menuju ke otak dan ke seluruh tubuh. Lalu kembali lagi ke jantung. Semua itu terjadi sangat cepat. Wajahku jadi kemerahan. Entah perasaan apa ini.

Tapi aku malu dan bingung. Tidak seperti biasanya.
Setelahnya aku ucapkan terimakasih.
Dan ia hanya pergi setelah sebelumnya mengangguk padaku dan tetap mempertahankan senyumannya itu. Lalu berjalan dengan tenang, sambil menutup payung hitamnya. Seketika awan di ujung jalan yang ia hadap bergeser serentak dan perlahan. Memperlihatkan garis sinar matahari hangat pagi tepat di dadaku. Memberiku rasa yang sangat menarik, mengubah pagi ku yang dingin dan biasa saja, menjadi hangat dan penuh rasa penasaran.

Sejak itu, lelaki itu tak pernah datang lagi, tak pernah berdiri dan menunggu di ujung jalan itu lagi. Aku hanya tersenyum dan menatap langit-langit kamarku. Menanti dan yakin, suatu saat, ia akan datang lagi, dan kami akan membicarakan banyak hal yang menarik.
Aku yakin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar