Selasa, 22 April 2014

First

Ini adalah kisa pertama kali aku bertemu dengannya.. Seorang wanita yang bisa tersenyum dikala debu berhenti berterbangan. Seorang wanita yang membiarkan tangannya tak bersih agar orang lain bahagia. Dia.


Aku:"Halo? Hoy.. gimana bro? ini gw bingung, casing dazumba D-vito 806 nya udah termasuk fan 12 cm apa belom? muat sama G41 gw gak? Hoy! halo? Bro!.."

Harin ini aku hanya duduk setengah kesal. Melihat jam tanganku berulang kali hingga leherku pegal. Aku membeli sebuat casing computer yang menurutku cukup bagus. Sayangnya informasi yang kudapat dari penjualnya-secara online- sangat minim. Padahal aku sudah mengecek semua informasi toko online nya, dengan sangat detail.

Kurasa saat ini aku bingung. Hanya bisa duduk termenung di sebuah halte bus di daerah jakarta yang cat-nya tak lagi biru namun abu-abu karena tak dirawat. Sesekali aku menghitung motor Honda yang lewat untuk mengurangi ketegangan di nadi pelipisku. Uang yang kumiliki baru saja kutransfer. Ya, aku mendapatkannya setengah mati. Menabung dan bekerja keras. Aku takut mendapatkan barang yang tak jelas informasinya. Jauh dari perkiraanku sebelumnya.

X:"Udah tenang aja.."

Aku menoleh ke kiri. Mencari sumber suara itu.

X:"Namanya casing gaming versi baru, pasti isinya complit, ga mungkin ga termasuk fan 12 cm nya" katanya sambil tersenyum.

Aku:"Ha?" aku hanya bisa terpana mendengarnya. Menelan ludah satu kali dan bersiap bertanya.

X:"G41 itu tipe motherboard lama. Jamannya core 2 duo kan? masih pakai itu? Haha.. Casing gaming jaman sekarang walaupun udah didesain untuk mobo baru, tapi ukurannya yang super besar, ga mungkin ga muat ko.." jelasnya sambil tersenyum dan menggelengkan kepalanya ke kiri satu kali.

Aku:"Iya ya.. mungkin saya yang terlalu khawatir.."

dan iya masih tersenyum.

Aku:"kenalin, Fahmi.." Kurasa ini adalah reflek seorang lelaki. Melihat kekaguman seorang wanita seumuranku -mungkin- yang memberi saran mengenai masalah yang kupikir tak mungkin dimengerti wanita.

Namanya Diana. Ia mahasiswi desain grafis yang menyukai dunia hardware komputer, sama sepertiku. Yang berbeda, aku seorang mahasiswa fakultas pertanian yang 'nyasar' di dunia kabel-kabel komputer. Wajahnya manis, berambut pendek dan bersuara halus, membuatku bingung sekaligus kaget bahwa mahasiswi yang mengetahui perangkat keras komputer sejauh itu benar-benar ada. Kukira hanya di komik Jepang/Manga saja.

Kami berkenalan dan mengobrol kurang lebih 40 menit di halte itu. Di dalam hati, aku sudah menghitung sekitar 3 bus yang hendak dinaiki Diana. Bus P54 jurusan Taman Anggrek, Jakarta Pusat. Aku sengaja diam karena tak rela obrolan kami diganggu.

Tapi hati kecilku berkata, aku harus gentle. Aku tak ingin menjadi inhibitor antara Diana dan tujuannya. Jadi kuputuskan mengingatkan ia dengan tujuan awalnya: Naik Bus Patas P54.

Diana tersenyum malu. Ia terdiam semenit karena baru ingat mengapa ia di halte bus. Aku pun senang melihat wajahnya sedikit memerah namun sekaligus sangat sedih. Jarang-jarang aku mampu mengobrol dengan orang yang baru kukenal namun terasa begitu akrab. Tentunya dengan kesamaan kesukaan yang kami miliki. Ah. Ini terasa tak adil.

Diana:"Yaudah.. makasi obrolannya.. Aku duluan ya.."

Aku:"Ah.. iya. ehm aku yang makasih lho udah dikasih saran yang bagus..Ah.."

Sesaat sebelum ia naik bus, aku melupakan sesuatu. Nomor handphone-nya.

Aku:"Diana! boleh minta nomer Handphone!"

Diana:"Ada di saku kiri kamu!"

Aku hanya tersenyum dan kembali tersenyum. Entah tuhan begitu baik denganku hari ini. Kataku dalam hati sambil melihat secarik kertas bertuliskan 12 digit nomor yang sangat kuanggap berharga itu.

Kamis, 27 Maret 2014

Slow but Sure

Cerpen selanjutnya masih ada hubungannya kok sama cerita pendek pertama "Bukan dengan Punggung" itu.. nantikan ya!

nb: lagi diketik.

Selasa, 22 Oktober 2013

Bukan dengan Punggung

Seorang lelaki berdiri di ujung jalan itu. Setiap pagi aku melihatnya menggenggam sebuah payung hitam. Entah hujan, entah terik, ia tetap melakukannya. Jam 06.20 hingga 07.00. Tak sedikitpun ia beranjak berdiri dari atas trotoar ber-bata blok abu-abu baru yang baru dipasang 2012 silam. Sesekali ia ditanyai orang yang lewat. Tapi seperti angin. Ia hanya berlalu. Tak bersuara.

Gemercik bunyi hujan memang agak menarik ujung bibir kanan dan kirinya sangat sedikit. Seperti ingin tersenyum namun tak sampai. Terik dan bunyi patukan burung di atas atap rumah-rumah sesekali membuatnya menggenggam erat gagang payung hitamnya itu. Suara tawa orang yang lewat, rasa penasaran mereka, seringkali membuat jari lelaki itu memainkan tali gagang payung hitam yang terbuka lebar seperti mangkuk sup terbalik.

Pagi ini aku memberanikan diri bertanya padanya. Hanya sedetik jarak ia berdiri dari rumahku. Setiap hari aku menatapnya dari lantai dua. Dari jendelaku yang kugeser untuk kututup setiap kali berganti pakaian atau sekedar mengurangi hawa dingin dari luar.

Kali ini ia memakai sebuah pakaian sederhana. Kaos bermerk berwarna hitam polos dengan gambar keil bertuliskan “Neil” dengan logo bunga teratai putih sederhana di bagian dada kiri nya. Dengan celana jeans panjang berwarna biru lusuh terawat. Dan sandal jepit hitam berujung kotak yang menahan bobot tubuhnya setiap hari.

Tatapannya yang kosong membuatku bertanya dalam hati “apa yang ia pikirkan”.

Aku berjalan dari lantai dua menuruni tangga.
Sedikit perlahan karena aku tak mau ibu atau ayah bertanya.
Kubuka pintu dan ternyata ia sudah tidak ada.

Aku maju sejenak, menyusuri desahan rumput halaman rumah, ditemani dengung tawon kecil diantara bunga anggrek hitam kesayangan ibuku. Menengok sedikit ke kanan. Dan ke kiri.
Lelaki itu ada diujung jalan, melintasi zebra cross kecil menuju jalan dengan kebun buah naga.
Tak terlihat ia tergesa-gesa. Tapi jaraknya seperti sudah berlari sekuat tenaga untuk jarak itu.
Kuurungkan niatku. Rasa penasaran ini kembali mengalir. Dinginnya tatapan kosong lelaki itu mengembungkan semangatku untuk kembali bertanya. Kupercepat gerakanku berganti pakaian dan bangun sepagi mungkin. Kali ini, aku pasti bisa bertanya.

Terjadi lagi.
Lelaki itu sudah di tempat yang sama seperti kemarin saat aku tiba di depan rumah.
Langkah ku yang cepat hanya membuatnya 10 meter lebih dekat dari posisinya kemarin.
Entah bagaimana.
Aku hanya bisa melipat bagian bibir bawahku dan bergemuruh dalam hati. “Tidak mungkin ia tahu aku ingin menyapa. Ia bahkan tidak pernah menatapku”.
Ketiga kalinya kucoba dengan cara yang sama.

Hasilnya pun sama.

Hatiku seperti gelas kosong. Terlihat padat dan indah, namun mudah pecah dan rapuh. Gelas kosong ini hanya ingin diisi dengan sapaan singkat. Bukan dengan punggung.

Hari ini aku hanya melihat sejenak. Tak lagi berharap untuk bertanya pada lelaki itu. Mungkin suatu saat ia mau berbicara. Tapi tidak saat ini. Ya. Mungkin. Kembali aku menatap cermin, menggunakan foundation tipis dan pelembab bibir berwarna merah muda semi transparan, berbau strawberry dan lembut. Ku ambil eye liner sedikit di bagian atas garis kelopak mataku. Satu saja di atas.

Tik tik tik..
Waktu terus berjalan, suara jam dinding berbentuk oval bermerk  SEIKO menemani langkahku yang santai karena pagi ini aku bangun tepat waktu.

Tak!

Eye liner-ku terjatuh dari jendela, menggelinding sedikit demi sedikit ke genting-genting bagian bawah, suara detak antara genting dan badan eye liner-ku mengiringi rasa khawatirku kehilangan benda itu. Kulihat ke bawah, ia sudah menghilang. Tapi diujung jalan itu, lelaki itu masih berdiri, menatap kosong ke arah jalan dengan payung hitamnya yang lebar terbuka.

Suara dering handphoneku memecah kebingunganku. Segera mengalihkan wajahku dari arah jendela ke dalam kasur tempat tidurku. Ternyata itu Veni. Ia meminta tolong dibawakan lembar soal ujian tahun lalu yang dulu sempat kujanjikan untuk kupinjamkan. Kuminta ia datang ke rumah sekalian belajar bersama, mengingat 1 minggu lagi ujian tengah semester akan dilaksanakan.

Aku kembali melakukan aktivitasku seperti biasa. Menatap cermin sejenak, tersenyum dan selesai.
Aku keluar melewati pintu kayu berwarna oranye muda yang mulai pudar, membungkuk dan mencium kedua tangan ibuku lalu melangkah meniti jalan kecil berbatu kerikil. Lelaki berpayung hitam itu di sana, menanti sesuatu yang tak kunjung ia dapatkan. Menemani pagi yang tak terlewatkan satu pun di sana selama 1 bulan ini. Tapi hidupku sangat menarik dan luas, bukan hanya mengurusi lelaki berpayung hitam itu saja.

Belum selesai aku menatap langit dan berbicara dengan diri sendiri, ada bayangan berbentuk bulat di depanku, tapi tak ada siapapun di depanku. Aku yakin itu bentuk payung. Artinya, ada seseorang di belakangku.

Aku tak takut.
Aku bukan penakut.
Dan aku tak pernah takut.
Kubalik badanku dan ia ada di sana.

Aku dan dia. Berada di ujung lorong ini. Baru ini aku sedekat ini dengannya. Seorang lelaki berwajah tampan dan agak pucat. Menatap langsung ke mataku. Aku langsung tahu ia tak berniat jahat, karena jika memang, ia sudah melakukannya dari dulu, dan ini di jalan. Sangat ramai, posisiku aman.

Dia menjulurkan lengan dan membuka telapak tangan kanannya. Memberiku sesuatu seperti tabung kecil berwarna hitam. Itu eye liner ku. Dengan menatapku hangat. Sangat berbeda dengan selama ini yang kutahu. Senyuman yang sangat manis terpasang menghiasi wajahnya.

Sangat berbeda.

Ia benar-benar sangat berbeda.

Tapi aku yakin dia orang yang sama.

Tanpa ragu aku ambil eye liner ku itu secara perlahan. Sambil setengah keheranan dan bertanya-tanya terus di dalam hati. Jantungku berdetak kencang. Tak dapat kubendung rasa ini. Aneh.
Aku tak pernah merasakan hal seperti ini. Aliran darahku mengalir begitu deras, dipompa oleh jantung melalui empat ruang di jantung.. melewati saluran vena dan arteriku. Menuju ke otak dan ke seluruh tubuh. Lalu kembali lagi ke jantung. Semua itu terjadi sangat cepat. Wajahku jadi kemerahan. Entah perasaan apa ini.

Tapi aku malu dan bingung. Tidak seperti biasanya.
Setelahnya aku ucapkan terimakasih.
Dan ia hanya pergi setelah sebelumnya mengangguk padaku dan tetap mempertahankan senyumannya itu. Lalu berjalan dengan tenang, sambil menutup payung hitamnya. Seketika awan di ujung jalan yang ia hadap bergeser serentak dan perlahan. Memperlihatkan garis sinar matahari hangat pagi tepat di dadaku. Memberiku rasa yang sangat menarik, mengubah pagi ku yang dingin dan biasa saja, menjadi hangat dan penuh rasa penasaran.

Sejak itu, lelaki itu tak pernah datang lagi, tak pernah berdiri dan menunggu di ujung jalan itu lagi. Aku hanya tersenyum dan menatap langit-langit kamarku. Menanti dan yakin, suatu saat, ia akan datang lagi, dan kami akan membicarakan banyak hal yang menarik.
Aku yakin.