Seorang lelaki berdiri di ujung jalan itu. Setiap
pagi aku melihatnya menggenggam sebuah payung hitam. Entah hujan, entah terik,
ia tetap melakukannya. Jam 06.20 hingga 07.00. Tak sedikitpun ia beranjak
berdiri dari atas trotoar ber-bata blok abu-abu baru yang baru dipasang 2012
silam. Sesekali ia ditanyai orang yang lewat. Tapi seperti angin. Ia hanya
berlalu. Tak bersuara.
Gemercik bunyi hujan memang agak menarik ujung bibir
kanan dan kirinya sangat sedikit. Seperti ingin tersenyum namun tak sampai.
Terik dan bunyi patukan burung di atas atap rumah-rumah sesekali membuatnya
menggenggam erat gagang payung hitamnya itu. Suara tawa orang yang lewat, rasa
penasaran mereka, seringkali membuat jari lelaki itu memainkan tali gagang payung
hitam yang terbuka lebar seperti mangkuk sup terbalik.
Pagi ini aku memberanikan diri bertanya padanya.
Hanya sedetik jarak ia berdiri dari rumahku. Setiap hari aku menatapnya dari
lantai dua. Dari jendelaku yang kugeser untuk kututup setiap kali berganti
pakaian atau sekedar mengurangi hawa dingin dari luar.
Kali ini ia memakai sebuah pakaian sederhana. Kaos
bermerk berwarna hitam polos dengan gambar keil bertuliskan “Neil” dengan logo
bunga teratai putih sederhana di bagian dada kiri nya. Dengan celana jeans
panjang berwarna biru lusuh terawat. Dan sandal jepit hitam berujung kotak yang
menahan bobot tubuhnya setiap hari.
Tatapannya yang kosong membuatku bertanya dalam hati
“apa yang ia pikirkan”.
Aku berjalan dari lantai dua menuruni tangga.
Sedikit perlahan karena aku tak mau ibu atau ayah
bertanya.
Kubuka pintu dan ternyata ia sudah tidak ada.
Aku maju sejenak, menyusuri desahan rumput halaman
rumah, ditemani dengung tawon kecil diantara bunga anggrek hitam kesayangan
ibuku. Menengok sedikit ke kanan. Dan ke kiri.
Lelaki itu ada diujung jalan, melintasi zebra cross kecil menuju jalan dengan
kebun buah naga.
Tak terlihat ia tergesa-gesa. Tapi jaraknya seperti
sudah berlari sekuat tenaga untuk jarak itu.
Kuurungkan niatku. Rasa penasaran ini kembali
mengalir. Dinginnya tatapan kosong lelaki itu mengembungkan semangatku untuk
kembali bertanya. Kupercepat gerakanku berganti pakaian dan bangun sepagi
mungkin. Kali ini, aku pasti bisa bertanya.
Terjadi lagi.
Lelaki itu sudah di tempat yang sama seperti kemarin
saat aku tiba di depan rumah.
Langkah ku yang cepat hanya membuatnya 10 meter
lebih dekat dari posisinya kemarin.
Entah bagaimana.
Aku hanya bisa melipat bagian bibir bawahku dan
bergemuruh dalam hati. “Tidak mungkin ia tahu aku ingin menyapa. Ia bahkan
tidak pernah menatapku”.
Ketiga kalinya kucoba dengan cara yang sama.
Hasilnya pun sama.
Hatiku seperti gelas kosong. Terlihat padat dan
indah, namun mudah pecah dan rapuh. Gelas kosong ini hanya ingin diisi dengan
sapaan singkat. Bukan dengan punggung.
Hari ini aku hanya melihat sejenak. Tak lagi
berharap untuk bertanya pada lelaki itu. Mungkin suatu saat ia mau berbicara.
Tapi tidak saat ini. Ya. Mungkin. Kembali aku menatap cermin, menggunakan
foundation tipis dan pelembab bibir berwarna merah muda semi transparan, berbau
strawberry dan lembut. Ku ambil eye liner
sedikit di bagian atas garis kelopak mataku. Satu saja di atas.
Tik tik tik..
Waktu terus berjalan, suara jam dinding berbentuk
oval bermerk SEIKO menemani langkahku
yang santai karena pagi ini aku bangun tepat waktu.
Tak!
Eye liner-ku terjatuh dari jendela, menggelinding sedikit
demi sedikit ke genting-genting bagian bawah, suara detak antara genting dan
badan eye liner-ku mengiringi rasa
khawatirku kehilangan benda itu. Kulihat ke bawah, ia sudah menghilang. Tapi
diujung jalan itu, lelaki itu masih berdiri, menatap kosong ke arah jalan
dengan payung hitamnya yang lebar terbuka.
Suara dering handphoneku
memecah kebingunganku. Segera mengalihkan wajahku dari arah jendela ke dalam
kasur tempat tidurku. Ternyata itu Veni. Ia meminta tolong dibawakan lembar
soal ujian tahun lalu yang dulu sempat kujanjikan untuk kupinjamkan. Kuminta ia
datang ke rumah sekalian belajar bersama, mengingat 1 minggu lagi ujian tengah
semester akan dilaksanakan.
Aku kembali melakukan aktivitasku seperti biasa.
Menatap cermin sejenak, tersenyum dan selesai.
Aku keluar melewati pintu kayu berwarna oranye muda
yang mulai pudar, membungkuk dan mencium kedua tangan ibuku lalu melangkah
meniti jalan kecil berbatu kerikil. Lelaki berpayung hitam itu di sana, menanti
sesuatu yang tak kunjung ia dapatkan. Menemani pagi yang tak terlewatkan satu
pun di sana selama 1 bulan ini. Tapi hidupku sangat menarik dan luas, bukan
hanya mengurusi lelaki berpayung hitam itu saja.
Belum selesai aku menatap langit dan berbicara
dengan diri sendiri, ada bayangan berbentuk bulat di depanku, tapi tak ada
siapapun di depanku. Aku yakin itu bentuk payung. Artinya, ada seseorang di
belakangku.
Aku tak takut.
Aku bukan penakut.
Dan aku tak pernah takut.
Kubalik badanku dan ia ada di sana.
Aku dan dia. Berada di ujung lorong ini. Baru ini
aku sedekat ini dengannya. Seorang lelaki berwajah tampan dan agak pucat.
Menatap langsung ke mataku. Aku langsung tahu ia tak berniat jahat, karena jika
memang, ia sudah melakukannya dari dulu, dan ini di jalan. Sangat ramai,
posisiku aman.
Dia menjulurkan lengan dan membuka telapak tangan
kanannya. Memberiku sesuatu seperti tabung kecil berwarna hitam. Itu eye liner
ku. Dengan menatapku hangat. Sangat berbeda dengan selama ini yang kutahu. Senyuman
yang sangat manis terpasang menghiasi wajahnya.
Sangat berbeda.
Ia benar-benar sangat berbeda.
Tapi aku yakin dia orang yang sama.
Tanpa ragu aku ambil eye liner ku itu secara perlahan. Sambil setengah keheranan dan
bertanya-tanya terus di dalam hati. Jantungku berdetak kencang. Tak dapat
kubendung rasa ini. Aneh.
Aku tak pernah merasakan hal seperti ini. Aliran darahku
mengalir begitu deras, dipompa oleh jantung melalui empat ruang di jantung..
melewati saluran vena dan arteriku. Menuju ke otak dan ke seluruh tubuh. Lalu kembali
lagi ke jantung. Semua itu terjadi sangat cepat. Wajahku jadi kemerahan. Entah perasaan
apa ini.
Tapi aku malu dan bingung. Tidak seperti biasanya.
Setelahnya aku ucapkan terimakasih.
Dan ia hanya pergi setelah sebelumnya mengangguk
padaku dan tetap mempertahankan senyumannya itu. Lalu berjalan dengan tenang,
sambil menutup payung hitamnya. Seketika awan di ujung jalan yang ia hadap
bergeser serentak dan perlahan. Memperlihatkan garis sinar matahari hangat pagi
tepat di dadaku. Memberiku rasa yang sangat menarik, mengubah pagi ku yang
dingin dan biasa saja, menjadi hangat dan penuh rasa penasaran.
Sejak itu, lelaki itu tak pernah datang lagi, tak
pernah berdiri dan menunggu di ujung jalan itu lagi. Aku hanya tersenyum dan
menatap langit-langit kamarku. Menanti dan yakin, suatu saat, ia akan datang
lagi, dan kami akan membicarakan banyak hal yang menarik.
Aku yakin.